Buka Akun

Apa itu Stagflasi?

Apa itu Stagflasi?
Daftar Isi

    Bayangkan suatu hari musim panas yang terik, dan anak Anda ingin es krim. Tahun lalu, es krim yang sama ukurannya lebih besar, rasanya lebih enak, dan harganya lebih murah.

    Sekarang bayangkan pengalaman itu terjadi di seluruh perekonomian. Harga makanan, sewa, energi, transportasi, dan pengeluaran sehari-hari terus naik, sementara upah sulit mengejar kenaikan tersebut, perusahaan memperlambat rencana mereka, dan keamanan kerja mulai terasa kurang pasti.

    Kombinasi yang tidak menyenangkan itu disebut stagflasi. Istilah ini menggambarkan periode di mana harga naik sementara pertumbuhan ekonomi kehilangan momentum. Ini adalah salah satu kondisi ekonomi tersulit yang harus dihadapi oleh rumah tangga, perusahaan, pembuat kebijakan, dan investor.

    Dari Mana Asal Kata “Stagflasi”?

    Kata stagflasi berasal dari dua istilah ekonomi: stagnasi dan inflasi. Stagnasi mengacu pada pertumbuhan ekonomi yang lemah atau mandek. Inflasi berarti kenaikan harga. Ketika kedua kondisi ini terjadi bersamaan, hasilnya adalah stagflasi.

    Istilah ini mulai dikenal luas pada tahun 1960-an. Istilah ini sering dikaitkan dengan politisi Inggris Iain Macleod, yang menggunakannya pada tahun 1965 saat menggambarkan kondisi sulit ekonomi Inggris. Saat itu, harga-harga naik, tetapi perekonomian juga kehilangan momentum. Kombinasi tersebut terasa cukup tidak biasa sehingga memerlukan istilah tersendiri.

    Gagasan ini menjadi semakin dikenal selama tahun 1970-an, ketika banyak perekonomian menghadapi guncangan minyak, biaya hidup yang lebih tinggi, pertumbuhan yang melambat, dan tekanan pada lapangan kerja. Sejak saat itu, istilah ini digunakan untuk menggambarkan salah satu kondisi ekonomi yang paling tidak nyaman: segala sesuatu menjadi lebih mahal, sementara perekonomian terasa melemah.

    Bagaimana Stagflasi Terjadi?

    Stagflasi biasanya dimulai ketika harga naik dari sisi biaya sementara perekonomian sudah kehilangan kekuatan. Alih-alih permintaan yang kuat yang mendorong harga naik, tekanan sering kali berasal dari energi, makanan, transportasi, bahan baku, atau barang impor yang semakin mahal.

    Guncangan Pasokan

    Guncangan pasokan terjadi ketika barang-barang biasa tiba-tiba menjadi lebih mahal atau lebih sulit diakses. Energi adalah contoh yang paling jelas. Ketika harga minyak atau gas naik tajam, transportasi, produksi, pertanian, logistik, dan tagihan rumah tangga semuanya menjadi lebih mahal.

    Perusahaan kemudian dihadapkan pada pilihan sulit: menaikkan harga, mengurangi produksi, menunda investasi, atau memperlambat perekrutan. Hal ini mendorong inflasi naik sekaligus melemahkan aktivitas ekonomi.

    Guncangan pasokan yang umum meliputi:

    • Lonjakan harga minyak dan gas
    • Kekurangan pangan
    • Perang atau ketegangan geopolitik
    • Masalah pengiriman
    • Pembatasan perdagangan atau tarif

    Pertumbuhan Lemah dengan Biaya yang Meningkat

    Konsumen menghabiskan lebih banyak uang untuk kebutuhan pokok seperti makanan, sewa, bahan bakar, dan listrik. Karena upah seringkali tidak mampu mengimbangi kenaikan tersebut, orang-orang mengurangi pengeluaran non-esensial.

    Hal ini berdampak pada sektor-sektor seperti ritel, perjalanan, restoran, otomotif, dan hiburan. Perusahaan menjadi lebih berhati-hati, perekrutan melambat, investasi menurun, dan ekonomi kehilangan momentum sementara harga tetap tinggi.

    Kesalahan Kebijakan

    Keputusan kebijakan dapat mempersulit pengendalian. Suku bunga rendah saat inflasi meningkat dapat mempertahankan tekanan harga lebih lama. Kenaikan suku bunga yang agresif dapat memperlambat pertumbuhan, melemahkan permintaan, dan meningkatkan risiko pengangguran.

    Itulah mengapa stagflasi menciptakan keseimbangan yang sangat sulit bagi bank sentral dan pemerintah. Mengatasi inflasi dapat merugikan pertumbuhan, sementara mendukung pertumbuhan dapat mempertahankan inflasi lebih tinggi lebih lama.

    Mengapa Ini Begitu Penting

    Stagflasi penting karena memberikan tekanan pada kedua sisi ekonomi secara bersamaan:

    • Rumah tangga menghadapi biaya hidup yang lebih tinggi,
    • Perusahaan menghadapi permintaan yang melemah dan biaya yang meningkat.

    Kondisi ini membuat pembuat kebijakan dihadapkan pada keputusan yang sulit. Bagi investor, risiko utama adalah jalur yang tidak jelas: inflasi mungkin menandakan kebijakan yang lebih ketat, sementara pertumbuhan yang lemah mungkin menandakan permintaan yang melambat dan kepercayaan yang menurun.

    Stagflasi dalam Sejarah Ekonomi

    Stagflasi paling sering diingat pada tahun 1970-an. Dekade tersebut menjadi contoh klasik karena inflasi tetap tinggi sementara pertumbuhan melemah dan tekanan pengangguran meningkat. Harga energi memainkan peran utama, dan dampaknya menyebar dengan cepat dari pasar minyak ke kehidupan sehari-hari.

    Krisis Minyak 1970-an

    Embargo minyak 1973 mendorong harga minyak naik tajam. Karena minyak memengaruhi transportasi, pabrik, pertanian, pemanasan, dan listrik, krisis tersebut menyebar ke seluruh ekonomi.

    Perusahaan menghadapi biaya yang lebih tinggi, konsumen membayar lebih untuk kebutuhan pokok, dan pertumbuhan mulai melambat. Guncangan minyak besar kedua terjadi pada tahun 1979 setelah Revolusi Iran, yang membuat tekanan inflasi tetap kuat lebih lama.

    Era Volcker

    Pada awal tahun 1980-an, Federal Reserve AS di bawah kepemimpinan Paul Volcker menaikkan suku bunga secara agresif untuk mengendalikan inflasi.

    Langkah tersebut akhirnya membantu menurunkan inflasi, meskipun biayanya sangat berat. Pinjaman menjadi mahal, aktivitas ekonomi melambat, dan pengangguran meningkat. Periode ini menunjukkan betapa sulitnya mengendalikan inflasi setelah ia menjadi sangat mendalam.

    Apa yang Kita Lihat Selama Periode Stagflasi?

    Stagflasi biasanya dirasakan sebelum sepenuhnya dipahami. Orang mungkin tidak mengikuti setiap rilis data ekonomi, tetapi mereka menyadari tagihan yang lebih tinggi, daya beli yang melemah, dan suasana yang lebih hati-hati di dunia bisnis.

    Biaya Hidup yang Lebih Tinggi

    Pengeluaran harian naik lebih cepat daripada pendapatan. Makanan, sewa, bahan bakar, listrik, transportasi, dan layanan dasar mengambil porsi yang lebih besar dari anggaran rumah tangga.

    Akibatnya, konsumen menjadi lebih selektif. Mereka menunda pembelian besar, mencari alternatif yang lebih murah, dan mengurangi pengeluaran untuk barang-barang non-esensial.

    Aktivitas Bisnis yang Melambat

    Perusahaan menghadapi biaya yang lebih tinggi sementara pelanggan menjadi lebih berhati-hati dalam berbelanja. Hal ini menekan margin keuntungan dan mempersulit perencanaan masa depan.

    Banyak perusahaan merespons dengan menunda investasi, mengurangi produksi, memotong anggaran pemasaran, atau memperlambat perekrutan. Ekonomi mulai terasa berat, meskipun harga-harga masih terus naik.

    Tekanan pada Lapangan Kerja

    Ketika permintaan melemah, perusahaan menjadi kurang bersedia untuk merekrut. Beberapa mungkin membekukan lowongan baru atau mengurangi jumlah karyawan jika biaya terus meningkat.

    Ini adalah salah satu bagian tersulit dari stagflasi: pekerja menghadapi biaya hidup yang lebih tinggi sementara keamanan kerja menjadi kurang pasti.

    Bank Sentral Hadapi Pilihan Sulit

    Bank sentral biasanya menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi. Selama stagflasi, hal ini dapat mendinginkan harga seiring waktu, tetapi juga dapat memberikan tekanan tambahan pada pertumbuhan dan lapangan kerja.

    Menjaga kebijakan moneter longgar dapat mendukung perekonomian untuk sementara waktu, tetapi hal ini mungkin memungkinkan inflasi tetap tinggi lebih lama. Dilema sulit ini adalah alasan mengapa stagflasi merupakan salah satu kondisi ekonomi tersulit untuk dikelola.

    Inflasi vs Stagflasi: Persamaan dan Perbedaan

    Keduanya merugikan daya beli, dan masyarakat harus membayar lebih untuk barang dan jasa yang sama. Perbedaannya terletak pada gambaran ekonomi yang lebih luas.

    Inflasi dapat terjadi selama perekonomian kuat, terutama ketika permintaan tinggi dan konsumen berbelanja.

    Stagflasi lebih sulit karena harga naik sementara pertumbuhan melambat, kepercayaan bisnis melemah, dan risiko pengangguran meningkat.

    Poin

    Inflasi

    Stagflasi

    Harga Naik Naik
    Pertumbuhan Bisa kuat atau moderat Lemah atau stagnan
    Lapangan kerja Pasar tenaga kerja dapat tetap kuat Tekanan di pasar tenaga kerja biasanya meningkat
    Dampak pada konsumen Daya beli menurun Daya beli menurun sementara stabilitas pekerjaan melemah
    Dampak pada bisnis Biaya lebih tinggi, tetapi permintaan masih dapat berlanjut Biaya lebih tinggi dengan permintaan yang lebih lemah
    Respons kebijakan Kenaikan suku bunga dapat meredam permintaan Kenaikan suku bunga dapat menambah tekanan pada pertumbuhan

    Stagflasi vs Resesi

    Resesi menggambarkan periode di mana aktivitas ekonomi mengalami kontraksi. Namun, stagflasi menghadirkan situasi yang lebih sulit.

    Poin

    Resesi

    Stagflasi

    Pertumbuhan Menyusut atau melambat tajam Melambat atau menjadi stagnan
    Inflasi Sering mereda saat permintaan melemah Tetap tinggi atau berlangsung secara terus-menerus
    Lapangan kerja Pengangguran biasanya meningkat Tekanan di pasar tenaga kerja meningkat sementara biaya hidup naik
    Perilaku konsumen Belanja melemah Belanja melemah karena kebutuhan pokok menjadi lebih mahal
    Tantangan kebijakan Mendukung pertumbuhan Mengendalikan inflasi tanpa semakin menekan pertumbuhan

    Dalam resesi biasa, melemahnya permintaan dapat membantu meredam inflasi. Selama stagflasi, perekonomian melemah sementara biaya hidup tetap tinggi.

    Kelas Aset dan Sektor Selama Stagflasi

    Pasar jarang bergerak selama periode ini. Semua pelaku pasar menjadi lebih berhati-hati terhadap aset yang didorong oleh pertumbuhan dan lebih fokus pada kebutuhan pokok, komoditas, emas, serta instrumen yang sensitif terhadap inflasi.

    Saham pertumbuhan dan valuasi yang mahal:

    Perusahaan yang dihargai tinggi berdasarkan pendapatan masa depan dapat berada di bawah tekanan. Ketika suku bunga naik, investor sering kali menjadi kurang bersedia membayar valuasi tinggi untuk keuntungan yang diharapkan di masa depan.

    Sektor barang konsumsi diskresioner:

    Perjalanan, barang mewah, restoran, hiburan, dan penjualan mobil mungkin melemah seiring rumah tangga mengalokasikan lebih banyak pengeluaran untuk kebutuhan pokok. Ketika biaya makanan, sewa, bahan bakar, dan tagihan energi mengambil porsi lebih besar dari pendapatan, pengeluaran opsional biasanya menjadi area pertama yang melambat.

    Perusahaan dengan utang tinggi:

    Bisnis dengan beban utang besar dapat menghadapi tekanan tambahan. Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya pembiayaan, sementara permintaan yang melemah membuat pendapatan menjadi kurang dapat diprediksi.

    Obligasi jangka panjang:

    Inflasi yang persisten dapat mengurangi daya tarik pembayaran kupon tetap. Jika pasar memperkirakan suku bunga akan tetap tinggi, harga obligasi jangka panjang mungkin tetap berada di bawah tekanan.

    Di sisi lain, beberapa aset dan sektor mungkin menjadi lebih diperhatikan selama stagflasi:

    • Komoditas: Energi, logam, dan produk pertanian sering menarik perhatian karena stagflasi biasanya terkait dengan guncangan pasokan dan kenaikan biaya input.
    • Emas: Investor mungkin memantau emas selama periode inflasi, ketidakpastian, dan melemahnya kepercayaan terhadap mata uang atau aset keuangan.
    • Sektor defensif: Barang konsumsi pokok, perawatan kesehatan, dan utilitas dapat bertahan lebih baik karena permintaan akan makanan, obat-obatan, listrik, dan layanan dasar lebih stabil.
    • Obligasi terikat inflasi dan aset riil: Ini mungkin menjadi lebih relevan ketika investor mencari aset yang terkait dengan penyesuaian inflasi, nilai fisik, atau arus kas yang stabil.

    Periode-periode ini cenderung mengalihkan perhatian pasar dari ekspektasi pertumbuhan agresif ke sektor-sektor yang dianggap lebih defensif atau sensitif.

    Mengapa Stagflasi Terasa Berbeda

    Sebagian besar perlambatan ekonomi terlihat di grafik terlebih dahulu dan baru terasa dalam kehidupan sehari-hari kemudian. Stagflasi sering bekerja sebaliknya. Orang merasakannya di toko kelontong, pembayaran sewa, tagihan bahan bakar, harga restoran, atau rencana yang ditunda jauh sebelum mereka mulai menggunakan istilah itu sendiri.

    Itulah yang membuat stagflasi begitu tidak nyaman. Perekonomian mungkin tidak terlihat benar-benar hancur, namun kehidupan sehari-hari secara diam-diam menjadi lebih mahal, lebih hati-hati, dan lebih tidak pasti.

    Stagflasi juga mengingatkan kita bahwa perekonomian tidak selalu bergerak dalam siklus yang jelas. Inflasi tidak selalu muncul selama pertumbuhan yang kuat, dan perekonomian yang melambat tidak selalu membawa harga yang lebih rendah. Terkadang kedua tekanan tersebut datang bersamaan, menciptakan lingkungan di mana hampir setiap keputusan terasa lebih sulit dari biasanya.

    Bergabung dengan Komunitas Bergabung dengan Komunitas
    Jadilah anggota komunitas kami!

    Bergabunglah dengan Channel Telegram Kami dan Berlangganan Sinyal Trading Kami secara Gratis!

    Bergabunglah dengan Telegram!