Dapatkan ulasan dan prakiraan mingguan yang komprehensif untuk memandu strategi trading Anda. Analisis mingguan kami menawarkan ulasan mendalam mengenai performa pasar dan prakiraan untuk membantu Anda merencanakan trading di minggu mendatang.
Spekulasi Kenaikan Suku Bunga Fed Meningkat Menjelang Data Ketenagakerjaan (29 Juni – 3 Juli)Pasar global memasuki pekan ini dengan investor yang fokus pada laporan pasar tenaga kerja AS yang akan datang, yang diperkirakan akan memberikan sinyal utama berikutnya untuk kebijakan Federal Reserve. Dolar AS tetap berada di dekat level tertingginya dalam lebih dari setahun setelah reli kuat pekan lalu, didukung oleh komentar hawkish dari Ketua Fed Kevin Warsh dan meningkatnya ekspektasi pengetatan moneter lebih lanjut. Pada saat yang sama, bentrokan militer yang kembali terjadi antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz sempat memicu kembali kekhawatiran inflasi sebelum kedua pihak sepakat untuk menangguhkan aksi militer menjelang putaran pembicaraan damai berikutnya di Doha.
Detail
Ketidakpastian Fed dan Iran Membuat Pasar Tetap Waspada (22-26 Juni)Pasar keuangan global menghadapi arus silang yang bergejolak minggu ini karena perubahan tajam dalam jalur diplomasi AS-Iran bertabrakan dengan sinyal kebijakan moneter yang agresif.
Detail
Peace Deal De-Escalates Energy Risk (15 - 19 June, 2026)Global markets experienced a strong wave of risk-on sentiment this week following reports of an interim agreement between the US and Iran to halt their military conflict and reopen the Strait of Hormuz, where nearly 600 vessels are currently stranded. The peace deal, scheduled to be signed in Switzerland on Friday, establishes a 60-day window for talks regarding Iran’s nuclear program, offering immediate maritime ceasefire terms and partial sanctions relief on Iranian overseas oil sales.
Detail
Data AS yang Kuat Mendukung Prediksi Kenaikan Suku Bunga (08-12 Juni)Pasar global memulai pekan ini ketika investor menilai kembali ekspektasi suku bunga setelah serangkaian rilis data ekonomi AS yang lebih kuat. Data pasar tenaga kerja yang solid, peningkatan lowongan pekerjaan, dan angka ketenagakerjaan yang tangguh memperkuat argumen untuk kebijakan moneter yang lebih ketat, sehingga mendorong penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi. Pada saat yang sama, ketegangan yang kembali muncul di Timur Tengah, termasuk pertukaran rudal antara Iran dan Israel serta gangguan yang terus berlanjut di dekat Selat Hormuz, membuat pasar energi tetap waspada dan mempertahankan kekhawatiran tentang tekanan inflasi.
Detail
Kekhawatiran Inflasi Mereda, Pertumbuhan Tetap Tangguh (25-29 Mei)Pasar keuangan memulai pekan ini dengan pijakan yang lebih kuat karena tanda-tanda kemajuan dalam negosiasi AS-Iran meningkatkan kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz dan mengurangi tekanan pada pasokan energi global.
Detail
Imbal Hasil Obligasi Melonjak Akibat Tekanan Inflasi (18-22 Mei)Dolar AS naik ke level tertinggi dalam enam minggu, sementara euro, pound, dan yen melemah di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa bank sentral mungkin akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.
Detail
Pelemahan Dolar Berlanjut (11 – 15 Mei)Pasar global kembali mengalami pekan yang bergejolak karena investor menyeimbangkan data ekonomi AS yang tangguh dengan ketidakpastian geopolitik yang berkelanjutan di Timur Tengah. Dolar AS melemah lebih lanjut, jatuh di bawah 98 dan mencapai level terendah dalam sepuluh minggu meskipun angka pasar tenaga kerja lebih kuat. Pada saat yang sama, kondisi gencatan senjata yang rapuh antara Amerika Serikat dan Iran terus membentuk pasar energi, sementara ketegangan di sekitar Selat Hormuz tetap menjadi sumber utama risiko inflasi dan kehati-hatian pasar.
Detail
Volatilitas Kembali dengan Sentuhan Berbeda (4 – 8 Mei)Pasar global bergerak melalui pekan yang bergejolak dan tidak merata karena intervensi mata uang, pergeseran dinamika energi, dan sinyal hati-hati dari bank sentral membentuk kembali sentimen. Dolar AS berada di bawah tekanan berkelanjutan, sempat jatuh di bawah 98 ke level terendahnya sejak akhir Februari, sebagian besar didorong oleh reli tajam yen Jepang setelah dugaan intervensi. Pada saat yang sama, perkembangan geopolitik di sekitar Selat Hormuz dan upaya diplomatik AS-Iran yang diperbarui terus memengaruhi pasar energi, menjaga ekspektasi inflasi tetap menjadi fokus.
DetailBergabunglah dengan Channel Telegram Kami dan Berlangganan Sinyal Trading Kami secara Gratis!
Bergabunglah dengan Telegram!